PENERAPAN TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT (TOD) dan KEBERLANJUTAN LINGKUNGAN PERKOTAAN

Ketergantungan terhadap kendaraan pribadi cenderung meningkat di kota-kota besar Indonesia, pilihan moda pribadi telah meningkat menjadi 80 persenan, hal ini akan berdampak negatif terhadap lingkungan. Berdasarkan penerapan TOD di beberapa kota besar di dunia menunjukkan penurunan ketergantungan terhadap kendaraan pribadi, karena adanya pilihan yang cepat, murah dan mudah mencapai tujuan hanya dengan berjalan kaki, menggunakan angkutan umum, Masyarakat tidak perlu repot mencari tempat parkir, membayar biaya parkir yang tinggi, biaya operasi yang tinggi pula. Sistem TOD diyakini akan menjadi solusi bagi masyarakat milenial bahkan gen:platinum dikemudian hari dengan mobilitas tinggi, serta membutuhkan layanan transportasi serta tempat tinggal yang efisien, aman, selamat dan terintegrasi. Tema ini diangkat pada Seminar Pakar dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota FMIPA, Universitas Terbuka pada hari Kamis, 29 April 2019. Seminar Pakar PWK kali ini berjudul, “Penerapan Transit Oriented Development (TOD) dan Keberlanjutan Lingkungan Perkotaan, disampaikan oleh Dr. Ir. Resdiansyah, ST, MT, IPM, Direktur Pembangunan Jaya Center for Urban Studies dan Dekan Fakultas Teknologi dan Desain, Universitas Pembangunan Jaya.

Konsep TOD saat ini sudah mulai dipakai dalam penataan kawasan di Jakarta. Secara umum, konsep TOD di Indonesia didasarkan atas Permen ATR. Selain Jakarta, TOD sudah diterapkan pula di Inggris, Malaysia, dan Singapura. Sebagai praktisi, Dr. Resdiansyah tidak hanya memaparkan teori dan konsep umum tentang TOD, namun juga pengalamannya saat merencanakan TOD di Singapura dan Malaysia. Jakarta yang sudah memiliki beberapa moda transportasi massal seperti Trans Jakarta, Commuter Line, dan MRT, mulai mengembangkan kawasan dengan konsep TOD. Beberapa kawasan di Jakarta yang dekat dengan stasiun kereta Commuter Line mulai direncanakan dengan menggunakan konsep TOD seperti di kawasan Tanjung Barat. Namun sebenarnya kawasan Tanjung Barat tersebut belum dapat dikatakan sebagai TOD karena pembangunan hanya terbatas pada fungsi perumahan dan belum mewadahi fungsi mixed use.

Seminar ini tidak hanya dihadiri oleh Staf Akademik FMIPA, namun juga mahasiswa PWK dari UPBJJ Bogor dan Bandung melalui fasilitas video conference, sedangkan beberapa mahasiswa dari UPBJJ Jakarta menghadiri secara langsung. Seminar pakar merupakan agenda rutin setiap program studi yang ada di FMIPA, Universitas Terbuka. Diharapkan dengan diadakannya seminar pakar ini memberi tambahan pengetahuan kepada staf akademik FMIPA serta mahasiswa yang menghadiri. Seminar ini berlangsung aktif, setelah Dr. Resdiansyah memberikan paparan yang menarik, para peserta seminar aktif bertanya baik di UT Pusat maupun dari UPBJJ.

Ditulis oleh: Lina Warlina, Tina Ratnawati, Erika Pradana